Dewa Bab 2

 

"Kamu bukan anakku!"

Kata-kata itu, kata-kata yang melampaui batas ingatan. Setiap menit, detik selalu saja menghinggapi kepala Dewa. Kata-kata tersakit yang pernah Dewa dengarkan. Bahkan, ayah kandungnya sendiri yang mengatakan itu langsung di hadapan Dewa.

Hati mana yang tidak sakit kalau anak kandungnya sendiri dikatakan bukan anaknya?

Selalu saja Dewa diam, namun batinnya selalu berkata, "Dewa memang tidak sempurna, Yah. Tapi, kenapa harus Dewa yang menanggung ini semua?" Perih hati Dewa tak kunjung reda. Semakin hari luka itu semakin menganga. Bukan hanya ayahnya saja yang menyakitinya, bahkan semua teman-temannya tidak segan untuk mengatakan kata-kata yang tidak pantas.

Terkadang kakak kelasnya tidak segan untuk bermain tangan yang membuat Dewa memiliki bekas luka. Entah mengapa mereka semua berlaku kasar terhadap Dewa. Padahal jika tidak menyukai Dewa cukup diamkan saja tanpa menggangu. Namun, sayang manusia pribumi bertindak keji layaknya hewan.

Dewa, sekarang menjadi pribadi yang pendiam, bahkan jauh pendiam dari biasanya. Yang semula masih memiliki keinginan berjalan-jalan di museum atau bahkan me time. Sekarang tidak lagi, dia takut. Mungkin Dewa sudah mengalami penurunan kesehatan mental, tanpa disadarinya. Bahaya!

Si mata cokelat itu duduk diam di bawah kasurnya dengan berimajinasi setinggi mungkin. Membayangkan dia naik di panggung yang lengkap dengan alat musik, mulai membuka suara untuk menghiasi ruang caffe, lalu banyak pasang mata melihatnya dan tak segan memberi tepuk tangan. Ah, rasanya indah.

Mungkinkan Dewa akan bisa meraih itu semua? Mungkin saja, jika ia mau berusaha.

Dia menghela napas, lalu tersenyum miring, dan bergegas ke tempat belajar. Mungkin melakukan kegiatan menjadi anak senja. Iya, menulis. Karena sekarang hobinya adalah menulis. Baginya, kertas dan pena adalah segala hal, meski kertas dan pena tidak memiliki telinga. Namun, rasa sakit yang menggores di dada lumpuh dengan seketika, walaupun masih perih jika diingat.



Melodi


P


antaskah bila aku mengukirmu di kertas lusuh ini?
Pantaskah aku melantunkan ayat-ayat nada yang sekarang sudah tidak asing lagi?
Pantaskah aku mengalunkan jariku ke benda-benda sakral itu?
Dan memulai bernyanyi dengan mata terpejam menikmati keindahan melodi?

Sayang, aku cacat bicara
Sayang, bicaraku tak sempurna
Sayang, rasa takutku lebih besar dari harapan
Menutup niat dengan seribu alasan

Tuhan, adakah keajaiban untukku?
Aku ingin sekali menadakan suaraku
Menyanyikan lagu untuk ayah dan ibu
Bersamaan di atas panggung buatanku

Katakan, Tuhan ...
Apakah aku bisa melakukan?
Bagaimana jika aku tidak bisa?
Apakah mereka akan tetap memperburuk keadaan rasa?


Buruk! Benar-benar buruk jika ketakutan itu terus dipupuk.

"Dewa bisa, Dewa bisa!" ucapnya dalam hati sambil mengusap air matanya yang lolos dari bendungan. Sekali lagi, dia menghela napas, tersenyum, mulai menekan tuts piano dan bersuara ....

"Now suddenly you're asking for it back, could you tell me where'd you get the nerve? Yeah, you could say you miss all that we had, but I don't really care how bad it hurts. When you broke me, first ...."

Broke Me First, lagu yang dibawakan oleh Dewa begitu lembut apalagi dibarengi dengan alunan piano, terdengar begitu sempurna. Nyaris tidak ada kekurangan apa pun. Juga, tidak ada kegagapan di sini. Tapi, kenapa ketika berbicara dia tetap saja gagap? Menyedihkan!

Lagu tadi, khusus untuk ayahnya. Ya, ayahnya lah yang pertama kali membuat Dewa hancur. Dan, satu-satunya penguat yang masih ia miliki hanyalah seorang mama. Just mom. Tidak ada yang lain.

"Dewa ... kenapa belum tidur, Nak?" panggil mamanya dengan penuh kasih sayang. "Sudah malam, loh! Tidak baik tidur malam-malam!" Mamanya senantiasa perhatian kepada Dewa. Ya, cuma bisa memberikan perhatian saja. Agar beban Dewa sedikit mengurang. Dengan memberi perhatian kecil, contohnya.

Dewa diam, menatap lurus ke depan, dan menghiraukan ucapan mama.

"Mulai besok, Dewa home schooling, ya?" Mamanya menanyakan pertanyaan itu lagi kepada Dewa, memastikan bahwa anaknya itu benar-benar setuju jika pendidikannya home schooling.

"Ta-tapi, Ma, nanti Dewa jadi seorang pengecut, dong? Karena lari begitu saja!" balas Dewa dengan hati-hati, takut mamanya tersinggung. Lagian, Dewa masih kuat belajar di sekolahan formal.

"Tapi, mama kasihan sama kamu, Nak! Semakin hari kamu semakin di bully. Itu akan membuat mental kamu turun, Nak!"

Dewa tidak membalas, ia hanya mengedipkan matanya dan tersenyum lebar. Dia percaya seratus persen bahwa Tuhan itu adil. Dia akan mendapatkan keadilan setelah ini.

"Baiklah, Nak. Kalau begitu, sekarang istirahat, ya! Mama akan mengabari Kak Koa kalau Dewa tidak jadi home schooling." Sedikit ada kecewa karena Dewa menolak perintahnya. Tidak, sekarang mamanya tidak akan memaksakan Dewa lagi, karena ia takut mental Dewa semakin menurun, yang nanti akan mengakibatkan depresi berat. Mamanya tidak ingin itu terjadi.

Benar-benar mama yang ideal.

"Tapi, Dewa ... Mama punya satu permintaan dan Mama bakalan bahagia kalau Dewa mau melunasi keinginan Mama," pinta mamanya dengan serius.

"Apa pun pa-pasti akan Dewa lakuin, asalkan ti-tidak home schooling!" jawabnya dengan antusias.

Mamanya sedikit lega mendengar balasan Dewa yang antusias seperti itu, akan tetapi masih belum lega. "Mama mau, Dewa jadi Model Fashion di butiknya teman mama!"

Deg

Komentar