Dewa Bab 2
"Kamu bukan anakku!" Kata-kata itu, kata-kata yang melampaui batas ingatan. Setiap menit, detik selalu saja menghinggapi kepala Dewa. Kata-kata tersakit yang pernah Dewa dengarkan. Bahkan, ayah kandungnya sendiri yang mengatakan itu langsung di hadapan Dewa. Hati mana yang tidak sakit kalau anak kandungnya sendiri dikatakan bukan anaknya? Selalu saja Dewa diam, namun batinnya selalu berkata, "Dewa memang tidak sempurna, Yah. Tapi, kenapa harus Dewa yang menanggung ini semua?" Perih hati Dewa tak kunjung reda. Semakin hari luka itu semakin menganga. Bukan hanya ayahnya saja yang menyakitinya, bahkan semua teman-temannya tidak segan untuk mengatakan kata-kata yang tidak pantas. Terkadang kakak kelasnya tidak segan untuk bermain tangan yang membuat Dewa memiliki bekas luka. Entah mengapa mereka semua berlaku kasar terhadap Dewa. Padahal jika tidak menyukai Dewa cukup diamkan saja tanpa menggangu. Namun, sayang manusia pribumi bertindak keji layaknya hewan. Dewa,...