Postingan

Dewa Bab 2

  "Kamu bukan anakku!" Kata-kata itu, kata-kata yang melampaui batas ingatan. Setiap menit, detik selalu saja menghinggapi kepala Dewa. Kata-kata tersakit yang pernah Dewa dengarkan. Bahkan, ayah kandungnya sendiri yang mengatakan itu langsung di hadapan Dewa. Hati mana yang tidak sakit kalau anak kandungnya sendiri dikatakan bukan anaknya? Selalu saja Dewa diam, namun batinnya selalu berkata, "Dewa memang tidak sempurna, Yah. Tapi, kenapa harus Dewa yang menanggung ini semua?" Perih hati Dewa tak kunjung reda. Semakin hari luka itu semakin menganga. Bukan hanya ayahnya saja yang menyakitinya, bahkan semua teman-temannya tidak segan untuk mengatakan kata-kata yang tidak pantas. Terkadang kakak kelasnya tidak segan untuk bermain tangan yang membuat Dewa memiliki bekas luka. Entah mengapa mereka semua berlaku kasar terhadap Dewa. Padahal jika tidak menyukai Dewa cukup diamkan saja tanpa menggangu. Namun, sayang manusia pribumi bertindak keji layaknya hewan. Dewa,...

Dewa Bab 1

Salahkah bila aku terlahir seperti ini? Bahkan sama sekali aku tidak merepotkan Anda-anda! Salahkah bila aku terlahir seperti ini? Seakan dunia membenci kehadiranku dan keberatan menerima keberadaanku Bila kalian tidak menerimaku, lantas kenapa aku harus berada di dunia ini? Aku menderita bukan karena dilahirkan. Namun, aku menderita karena kalian merendahkan dan meremehkan segala-galanya tentangku Aku, tidak akan dendam pada kalian, hanya saja jangan salahkan aku jika puisi-puisi yang kutulis di lembar kertas mampu melumpuhkan caci maki kalian. Aku ikhlas. Senja. Telah ternikmati olehnya setelah meminum habis cokelat panas khas buatan mama dan menuliskan puisi-puisi depresi sisa kesabaran. Dia adalah Dewa. Dewa cokelat panas kesayangan mama. Ah, bukan juga! Alexio Dewa, ya, namanya adalah Alexio Dewa—bukan Dewa cokelat panas. Memang benar, dia penyuka sekaligus penggila cokelat panas. Namun, khus buatan Fernanda—mamanya. "Mma ... b-bila benar a-ayah ingin meninggalkan k...