Dewa Bab 1


Salahkah bila aku terlahir seperti ini?
Bahkan sama sekali aku tidak merepotkan Anda-anda!
Salahkah bila aku terlahir seperti ini?
Seakan dunia membenci kehadiranku dan keberatan menerima keberadaanku
Bila kalian tidak menerimaku, lantas kenapa aku harus berada di dunia ini?
Aku menderita bukan karena dilahirkan.
Namun, aku menderita karena kalian merendahkan dan meremehkan segala-galanya tentangku
Aku, tidak akan dendam pada kalian, hanya saja jangan salahkan aku jika puisi-puisi yang kutulis di lembar kertas mampu melumpuhkan caci maki kalian.
Aku ikhlas.

Senja. Telah ternikmati olehnya setelah meminum habis cokelat panas khas buatan mama dan menuliskan puisi-puisi depresi sisa kesabaran. Dia adalah Dewa. Dewa cokelat panas kesayangan mama. Ah, bukan juga! Alexio Dewa, ya, namanya adalah Alexio Dewa—bukan Dewa cokelat panas. Memang benar, dia penyuka sekaligus penggila cokelat panas. Namun, khus buatan Fernanda—mamanya.

"Mma ... b-bila benar a-ayah ingin meninggalkan kita, apakah itu a-artinya karena terlahirnya diriku?" Dewa membuka suara dengan ucapan khasnya, gagap. Iya, dia seorang remaja yang malang. Semua orang menjauhinya karena gagap. Orang-orang beralasan bahwa orang yang bicaranya gagap adalah orang yang sedang menyembunyikan kesalahan maupun kebohongan. Apakah itu benar? Entahlah, anggapan orang-orang terlalu aneh.

Terlahir gagap adalah bukan keinginan Dewa, juga orangtuanya mengharapkan anaknya sempurna. Namun, apakah Dewa dicap tidak sempurna hanya karena satu kekurangannya? Apakah terlahir gagap itu suatu kesalahan?

"Nak, percayalah, ayahmu tidak membenci keberadaanmu! Dia hanya ingin—" ucapan mamanya terpotong.

"Ingin me-menghindar ddariku, kan?" Kali ini Dewa menyela pembicaraan mamanya. Wajah-wajah yang lelah dan mata pandanya yang mulai terlihat menjadikan Dewa nampak seperti remaja yang depresi. Mungkin bisa dikatakan depresi. Bagaimana tidak, setiap hari bertemu dengan teman-teman yang selalu saja mengolok-olok dirinya dan ditambah lagi, ayahnya yang dengan lantang berbicara bahwa Dewa adalah bukan anaknya. Semuanya begitu merapuhkan hati Dewa.

Mamanya yang sepenuh hati menjaga Dewa benar-benar kasihan dengan mentalnya. Dipeluknya erat-erat tubuh Dewa, menenangkan hatinya, sekaligus menjadikan mamanya sebagai tempat untuk berkeluh kesah.

Dunia sangat kejam.

"Tidak, Nak! Ayahmu tidak seperti itu, dia menyayangimu dengan sepenuh hati, meski caranya menyayangi itu salah." Mamanya mencoba untuk membuat Dewa mengerti.

Dewa yang rapuh pun hanya bisa mengangguk dan menyembunyikan tangisnya di balik pelukan mama.

"Dewa, sekarang mandi, ya! Setelah itu turun, kita makan sama-sama!" ajak mamanya, karena ia tahu bahwa Dewa belum makan sejak pulang dari sekolah. Bahkan, Dewa menolak makan tepat di hadapan mamanya.

"Baik!" jawab Dewa dengan lemas. Lelah. Dia begitu lelah dengan semua ini. Namun, jika dengan membantah hanya akan menambah masalah, akhirnya ia mau tidak mau harus menuruti kata mamanya. Lagi pula Dewa tidak memiliki siapa-siapa lagi selain mamanya. Sosok ayah yang dia sayangi pergi meninggalkannya beberapa hari yang lalu, kini tinggallah ia dan mamanya saja.

Ma, Dewa ingin menjadi Dewa untuk diri sendiri. Dewa ingin mengatur semuanya sendiri. Juga, Dewa akan berusaha untuk menjadi diri sendiri. Meski sebenarnya Dewa ingin seperti mereka-mereka yang tidak memiliki kekurangan. Aku tidak membenci kekurangan ini, hanya saja aku tidak suka jika orang-orang meremehkan diriku dan mengatur-atur hidupku.

Setetes air jatuh dari matanya, hatinya yang terluka sangat rentan menerima ucapan-ucapan yang tidak mengenakkan hati.

"Tuhan, bila kekurangan ini yang terbaik untukku, maka kuatkan hati dan mental hamba-Mu ini, Tuhan! Jika saja aku terus-terusan diganggu, disakiti, dicaci maki, rasanya sudah terbiasa. Namun, hati yang sebenarnya tidak salahlah yang menjadi korban, tolong kuatkan aku!"

Trenyuh, doa Dewa yang dilantunkan setiap hari hanyalah tentang kekuatan hati. Dia bahkan tidak berdoa untuk menghilangkan gagapnya itu ataupun mendokan yang jelek untuk teman-teman yang sudah berani mencaci makinya. Dia benar-benar Dewa untuk dirinya sendiri.

"M-mama masak apa? Kkelihatannya sangat enak!" Setelah beberapa menit menghabiskan waktunya untuk bercerita dengan air, akhirnya kegiatan sakral itu selesai juga. Tidak hanya itu saja, ia merutinkan diri untuk merawat wajahnya yang tampan itu dengan memoles beberapa skincare. Jadi, semakin tampan.

"Kesukannmu, sayang! Ayam bakar sambal kecap dan ...." Mamanya menggantung ucapannya. "Salad." Senyum mamanya merekah setelah melihat mata Dewa melebar dengan antusias.

"Da-dari kamar Dewa, jjuga tercium kok, Ma, baunya!" Sekali lagi, Dewa mengendus aroma khas itu dan berlari menuju meja makan. Tidak baik jika makanan dibiarkan terbuka lama-lama.

Mamanya benar-benar senang melihat anaknya itu kembali tersenyum. Meski hatinya nyaris babak belur akibat kejamnya semesta. Namun, mamanya tidak sepenuhnya membenci semesta, berkat semesta Dewa lahir dan menjadi anak kesayangannya. Baginya, Dewa adalah seorang anak kecil yang selalu minta didongengin sebelum tidur. Menggemaskan.

"Makannya pelan-pelan, ya, nanti tersedak!" Melihat Dewa yang antusias memakan makanannya membuat mamanya berkeinginan untuk menjaga Dewa dengan ketat agar tidak ada lagi yang bisa merapuhkan hati anaknya itu.

Sudah cukup penderitaan untuk Dewa, dan kali ini mamanya yang akan bertindak.

Ditatapnya wajah sang anak dengan lekat-lekat. "Mama berjanji untuk membahagiakan dirimu, Nak!" ucapnya dalam hati, lalu tersenyum manis.

Komentar